Satu Bulan yang Menentukan

27 April 2009

Pekan ini merupakan situasi yang paling menegangkan bagi korp guru bujang TMI Al – Amien Prenduan (asatidz yunior). Betapa tidak, sebayak 78 ustadz terancam di DO serta 4 (Zainul Furqon, Badrut Tamam, Bahtiar, Sutrisno) ustadz yang sudah positif harus meninggalkan bumi djauhari tercinta.
Hal itu berawal dari kekecewaan pengasuh Pond-Pest Al-Amien Prenduan KH. Muhammad Idris Jauhari terhadap kinerja para asatidz khususnya yang masih yunior -seperti saya- dalam menjalankan tugas - tugas 3 fungsi guru akhir-akhir ini. Beliau menilai kami sudah kehilangan Ruhul Jihad. Bahkan ada selentingan kabar bahwa beliau mendapat sms kaleng -entah dari siapa- yang isinya pempertanyakan kapabilitas kepemimpinan beliau sebagai successor dari almarhum KH. Moh. Tijani Djauhari dalam memimpin dan mengembangkan Pond-Pest Al-Amien Prenduan. Puncaknya ketika kamisan ( kumpul rutin setiap kamis sore yang harus diikuti oleh seluruh ustadz TMI ) beliau memberi fatwa dan nasehat kepada kami. Dalam nasehatnya beliau mengingatkan kami agar berpegang teguh terhadap sumpah yang telah kami ikrarkan ketika pengangkatan menjadi Guru Al-Amien Prenduan yang biasa kami sebut dengan Sapta Setia Guru.
Diakhir fatwanya, beliau meminta kami untuk menarik kesimpulan dari fatwah tersebut dan harus dikumpulkan kepada mudir ma’had paling lambat sebelum sholat jum’at. Ternyata tidak sedikit dari para asatidz yang tidak mengumpulkan tugas dari Pak Kyai sehingga membuat beliau marah besar dan semakin yakin akan hilangnya ruhul jihad dari para asatidz.
Hari sabtu pagi semua ustadz yang tidak mengumpulkan tugas dari Pak Kyai disuruh membuat surat pernyataan maaf beserta alasannya kepada Pak Kyai. Kemudian sabtu malamnya kami (para asatidz TMI) dikumpulkan di aula.
Keesokannya, hari minggu pagi tepatnya setelah shalat subuh para asatidz yang tidak mengumpulkan tugas Pak Kyai diminta berkumpul dikediaman beliau. Kami menghadap Pak Kyai Per-Shop (angkatan). Akhirnya beliau memutuskan untuk memulangkan asatidz yang bermasalah dari semua katagori yang dikelompokkan, yaitu kelompok A (Sutrisno, Zainul Futqon, Bahtiar), kelompok B (Badrud Tamam) dan kelompok C yang beranggotakan 78 asatidz karena beliau merasa telah diremehkan dan dihina oleh para asatidz yang bermasalah.
Dari semua katagori yang dipulangkan, kelompok C masih mendapat kesempatan dari Pak Kyai untuk meminta maaf dan memohon bersama walinya agar diterima kembali menjadi tenaga pendidik di Pond-Pest Al-Amien Prenduan. Jum’at pagi para asatidz yang bermasalah dari kelompok C dan para walinya berbondong-bondong menghadap Pak Kyai untuk meminta maaf dan mohon untuk diberi kesempatan kembali untuk berubah mejadi ustadz yang lebih baik dan diterima kembali menjadi Guru Al-Amien Prenduan. Namun Pak Kyia bergeming dan tetap teguh dengan keputusannya (memulangkan ustadz bermasalah yang beliau anggap sudah kehilangan ruhul jihad).
Setelah melihat usaha para asatidz yang bermasalah untuk bisa diterima lagi di pondok tercinta ini, akhirnya Pak Kyai luluh juga. Pak kyai memaafkan dan menerima asatidz yang bermasalah dari kelompok C (walau tidak semua diterima) dengan beberapa syarat.
Setelah kejadian tersebut, dalam rapat guru-guru senior memutuskan perombakan asatidz dengan mengelompokkan asatidz menjadi dua kelompok, Syamal dan Yamin. Kelompok Syamal inilah yang merupakan kandidat pendepakan. Mereka (kelompok Syamal) akan dipantau dalam waktu satu bulan kedepan tentang kinerjanaya. Jika dalam jangka waktu satu bulan tidak ada perkembangan yang signifikan, maka mereka dianggap sudah tidak layak lagi menjadi penghuni bumi djauhari tercinta ini. Dan parahnya saya masuk dalam kelompok Syamal.
Mampukah saya bertahan disini?
Mampukah saya meningkatkan kinerja saya?
Mampukah saya menepati dan melakukan sapta setia guru yang telah saya ikrarkan?
Benar-benar satu bulan yang menentukan. Apapun yang terjadi saya harus bisa bisa melewatinya.

Category:  
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
0 Responses
Leave a Reply